Menyoal Perkuliahan dan Lulusan S2 Untuk Orientasi Profesi Dosen

Melanjutkan kuliah (ke S2) artinya bahwa kalian mulai menspesifikkan keilmuan pada bidang yang kalian tekuni. Mengambil jenjang yang lebih tinggi (yakni S2) artinya adalah kalian memutuskan untuk menjadi ahli pada bidang ilmu yang lebih spesifik dari tingkatan sarjana.

Kalau memang ingin studi lanjut, maka pertimbangkan segala sesuatunya dari semenjak jauh hari sebelum, misalnya memutuskan untuk mengambil spesifikasi prodi yang linier atau tidak. Ambil prodi dengan pemikiran yang matang, yang sesuai dengan pertimbangan karir ke depan dan passion. Jangan berpikir untuk meneruskan kuliah dan/atau mengambil spesifikasi prodi tanpa ada bayangan dan rencana yang terlintas akan seperti apa nantinya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan supaya tujuan studi lanjut bukan untuk asal ikut-ikutan, tren, atau apa pun yang tidak jelas. Kecuali, tren melanjutkan kuliah sebagai peningkatan profesionalitas diri dan jenjang karir yang lebih baik merupakan salah satu alasan yang berterima.

Yang ingin saya sampaikan kemudian adalah bahwa ketika memulai perkuliahan dan apalagi setelah perolehan gelar magister, berdasarkan pengalaman saya yang mengambil studi peminatan pengajaran tentu saja karir yang sudah terbayang di antaranya ialah menjadi pendidik, yakni dalam hal ini dosen.

Menjadi dosen merupakan suatu ketentuan atau implikasi yang ingin diraih oleh sebagian besar mahasiswa S2. Toh, walau memang bukan untuk berkarir sebagai pendidik, yakni dosen, melainkan ingin berkarir di suatu perusahaan, kementerian, atau bidang profesional yang bukan di bidang pendidikan, ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan pihak kampus.

Setelah saya lulus S2, saya mendapati kenyataan yang saya sadari merupakan hal penting bagi perguruan tinggi untuk selanjutnya dibenahi, yakni sebagai berikut.

  1. Perlunya penyusunan mata kuliah yang berorientasi keilmuan yang sudah spesifik bagi para mahasiswa S2 agar langsung diarahkan sebagai ahli dalam bidang kajian yang diambil.
  2. Pada intinya terdapat ketiadaan titik temu antara apa yang diterima dari kampus, misalnya sejumlah SKS dari mata kuliah yang mubazir yang tidak sesuai dengan spesifikasi keahlian studi, dengan kenyataan yang terjadi ketika mulai karir.

Sebagai contoh, satu angkatan kami yang hampir semuanya berlatar belakang pendidikan bahkan ada yang sudah mengajar dan berstatus dosen, bukankah akan lebih baik untuk langsung fokus mengarah pada bidang pekerjaan yang kami geluti ini?

OK, mari perjelas saja.

Untuk perkuliahan yang sudah jelas merupakan studi dari peminatan pengajaran terutama keahlian dalam bidang pengajaran bahasa, maka tentunya kampus dapat fokus untuk kemungkinan peluang karir berikut.

  • Guru/Dosen
  • Peneliti
  • Studi lanjut ke Program Doktor (PhD) dengan atau tanpa Beasiswa
  • Karir pofesional di Kementerian, atau bahkan lintas industri
  • Dosen yang memiliki jabatan fungsional atau akademik, atau berada dalam struktural
  • Konsultan pendidikan
  • Public Speaker

Dari contoh yang saya ambil di atas sepertinya sudah cukup mewakili.

Sekarang yang ingin saya sampaikan adalah kampus harus memberikan materi yang benar-benar memenuhi skills yang dibutuhkan Calon Magister selain tentu kedalaman keilmuan dan teori yang mumpuni, yaitu yang sesuai dengan prediksi karir berdasarkan spesifikasi bidang studi yang diambil. Tidak ketinggalan juga berikan info yang seluas-luasnya mengenai peluang prediksi karir terbaik yang dapat diperoleh para Calon Magister ini.

Bagaimana bisa saya katakan terdapat ketiadaan titik temu karena fakta yang saya peroleh ketika berupaya memulai karir sebagai dosen ternyata ada hal penting yang luput dari perhatian pihak kampus, yang seharusnya para lulusan S2 wajib terima dan ketahui.

Satu dari sekian hal yang luput, saya ingin menyoroti mengenai pentingnya keberadaan publikasi penelitian di jurnal terakreditasi bagi para Calon Magister di awal karirnya sebagai dosen, yang juga merupakan bukti kontribusi nyata dari keilmuan yang mereka terima. Bahkan katakanlah untuk mereka yang langsung terus studi lanjut ke Program Doktor (PhD) dengan atau tanpa Beasiswa, keahlian menulis dan sudah memiliki penelitian yang terpublikasi di jurnal akan menjadi jalan pembuka dan memiliki nilai plus.

Kaum intelektual (akademisi) memang perlu banyak melakukan penelitian sebagai bentuk recognition juga track record. Namun, dari pengalaman yang saya rasakan hal ini tidak menjadi fokus kampus untuk ditekankan kepada para Calon Magister, terutama yang sudah jelas akan berkarir sebagai dosen.

Untuk memulai karir sebagai dosen yang tersertifikasi setidaknya perlu memiliki 2 (dua) penelitian yang terpublikasi di jurnal dan 1 (satu) penelitian yang terpublikasi di prosiding. Artinya, menjadi seorang dosen tidak hanya cukup untuk kemudian mendapatkan NIDN/NIDK/NUP, tetapi juga selanjutnya diusulkan untuk memiliki jabatan fungsional atau akademik yang tersertifikasi sebagai upaya peningkatan profesionalitas diri dan kesejahteraan dosen.

Sederhananya, sebagai seseorang yang melanjutkan studi ke tingkatan yang lebih tinggi sudah tentu dituntut untuk memberi kontribusi yang maksimal sebagai bagian dari konsekuensi kaum intelektual (akademisi). Karena itu, perlu kesadaran dan pemahaman untuk melakukan banyak penelitian agar dapat memajukan bidang keilmuan Indonesia.

Pada akhirnya, saya menginginkan titik temu yang harus para Calon Magister untuk orientasi profesi dosen wajib terima dan ketahui dari pihak kampus (walau hal berikut juga berlaku untuk lulusan jenjang sarjana dan terlebih doktor) ialah sebagai berikut.

  1. Keahlian presentasi;
  2. Kemampuan dalam merumuskan sebanyak-banyaknya ide penelitian;
  3. Kemampuan menganalisis untuk memilah mana yang layak untuk diangkat menjadi topik penelitian;
  4. Kemampuan menulis yang sangat baik (seperti mampu membuat artikel penelitian), sehingga dapat diterbitkan di jurnal-jurnal terakreditasi nasional bahkan internaisonal yang terindeks scopus;
  5. Pengalaman mengikuti kegiatan untuk menambah jaringan dan wawasan keilmuan dengan orang-orang yang berada di bidang kajian serupa, seperti tidak luput dari keikutsertaan seminar, konferensi, pelatihan dan sejenisnya;
  6. Berani untuk kemudian menyajikan makalah yang telah ditulis sendiri kepada publik nasional dan internasional sebagai pembicara, atau pemakalah;
  7. Memiliki kedalaman materi dan/atau teori bidang kajian yang digeluti agar mampu adu argumentasi dengan ilmuwan lain;
  8. Kemahiran dalam mengaplikasikan keilmuan dan teori yang diperoleh ke dalam wujud praktik yang nyata dan;
  9. Tidak kalah penting selain pendewasaan dan kematangan dari segi intelektualitas, tetapi juga pendewasaan dan kematangan dari segi sikap dan pemikiran.

Khusus untuk penjelasan mengenai pendewasaan dan kematangan dari segi sikap dan pemikiran terlebih bagi kaum intelektual seperti dosen ialah di antaranya:

Kaum intelektual yang semakin kaya ilmu, maka ia dapat memiliki sikap dan pemikiran seperti filosofi padi. Pada intinya, ilmu yang dimiliki harus dibagi ke banyak orang agar orang lain dapat merasakan manfaatnya. Artinya, tidak dinikmati sendiri atau malah berpikiran takut tersaingi dan tidak ingin orang lain ikut maju karena merasa khawatir yang lain akan lebih baik dari dirinya.

Selain itu, kaum intelektual harus memiliki sikap dan pemikiran yang dapat mengakui kesalahan apabila yang ia perbuat ternyata menyalahi dan menyakiti, serta merugikan orang lain. Kemudian, hal lain yang tidak kalah penting ialah sikap dan pemikiran yang bijaksana. Bijaksana ini harus dimiliki kaum intelektual katakanlah seorang dosen. Karena dalam setiap perkara yang berhubungan dengan orang lain, terutama anak didiknya, maka sebagai pendidik harus memperhatikan setiap pernyataan yang terucap dan tidak gegabah dalam memberi justifikasi sebelum diawali dengan pendekatan yang mendalam.

Dalam pada itu, sosok dosen haruslah pribadi yang mengayomi dan tidak mempersulit suatu urusan, tetapi perlu membangun komunikasi agar menemukan solusi terbaik. Menjadi dosen harus sepenuhnya menyadari bahwa hasil output pendidikan tinggi yang akan diperoleh anak didiknya berdampak besar bagi masa depan mereka. Karena itu, seorang pendidik harus mampu mengembalikan arah tujuan dan/atau sasaran anak didik ke tempatnya apabila mereka mulai tidak fokus.

Akan ada banyak masalah yang membuat anak didik tidak memenuhi harapan dan kualifikasi yang seorang dosen tetapkan. Namun, perlu selalu mengingat bahwa anak didik ini sudah menjalani proses belajar sampai dengan tahapan yang mereka jalani, dengan biaya yang tidak sedikit, dengan segala bentuk usaha yang telah mereka perjuangkan, maka saat itu ketika anak didik ini mulai terasa tertinggal, jangan melepaskan mereka dan membuat justifikasi bahwa mereka sungguh tidak dapat diharapkan.

Menjadi pendidik adalah suatu pilihan profesi yang berisiko tinggi dan tidak dapat dijalani dengan mudah, tetapi apabila ini dijalankan dengan kesungguhan hati akan ada banyak perubahan yang disinggungnya. Keistimewaan bidang pendidikan ialah karena bidang ini menyentuh dan memengaruhi segala aspek kehidupan, bahkan sampai kepada diri pribadi perseorangan, sehingga seseorang mampu berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Menjadi seorang pendidik juga mesti menyadari bahwa peran yang ia berikan kepada setiap anak didiknya tidak berhenti sampai kapan pun bahkan walau semua anak didiknya telah lulus.

Pendidik ikut andil dan bertanggung jawab pada kelanjutan karir dan kehidupan anak didiknya. Bertanggung jawab di sini ialah bahwa ia harus mampu membuat lulusannya menjadi problem solver, penggerak dan pemimpin perubahan, generasi penerus yang membawa sejumlah perbaikan dari hal-hal yang merusak.

Satu hal kecil tanggung jawab yang harus pendidik penuhi ialah bahwa lulusan mereka harus mampu berdikari. Menghasilkan lulusan berkualitas yang dapat memecahkan permasalahan sosial. Tidak hanya berfokus pada GPA tinggi, tetapi juga perhatikan kemampuan praktik anak didik di lapangan agar mereka terhindar dari ketidakmampuan memenuhi kualifikasi dasar dari bidang studi yang telah digeluti bertahun-tahun.

Semoga apa yang saya tuliskan juga merupakan pengingat bagi diri sendiri agar selanjutnya saya dapat memberikan hak-hak anak didik yang semestinya mereka terima dan ketahui.

Karin Sari Saputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s