Kajian Puisi Inggris

Sasaran Akhir (Goals)

Penilaian mengikuti materi Kajian Puisi Inggris didasarkan atas kriteria kemampuan mahasiswa dalam:

  1. mengidentifikasi dan menyebutkan peranti puitis yang meliputi aspek bunyi, makna, susunan, dan citra yang ditimbulkannya.
  2. untuk menunjukkan keefektifan penggunaan masing-masing peranti puitis.
  3. mengungkapkan makna denotatif dan konotatif dalam puisi.
  4. menyusun parafrase sebuah puisi dengan bahasa Inggris yang baik (standar), dan
  5. menginterpretasi puisi dengan logis sesuai dengan pengggunaan peranti puitis dalam puisi.

Sekilas Perspektif Umum:

Kajian puisi lebih sulit daripada kajian prosa dan drama Inggris. Hal senada disampaikan oleh Padmanugraha[1] (2007: 4), bahkan dia mengatakan dengan lebih ekstrim bahwa kebanyakan mahasiswa menganggap puisi lebih menakutkan.

Persepsi mahasiswa tentang sulitnya kajian puisi memang cukup beralasan mengingat bahwa puisi mempunyai karakteristik dan unsur-unsur yang tidak sama dengan apa yang dimiliki oleh prosa dan drama. Di samping itu, sifat puisi yang singkat dan padat mengharuskan penulis atau penyair untuk benar-benar selektif dalam memilih kata (diction), penggunaan rima, penggunaan majas, dan peranti puitis lainnya. Terbatasnya ruang ini memaksa penulisnya untuk menggunakan kata seefektif mungkin. Dengan terbatasnya jumlah kata tersebut kadang-kadang sangat menyulitkan pembaca (mahasiswa) dalam apresiasi puisi. Banyak mahasiswa yang tidak sabar dan tekun menelusuri makna di balik apa yang tertulis secara harfiah dalam teks puisi.

Kesulitan dalam Pemahaman Puisi

Puisi mempunyai karakteristik yang berbeda dari karya sastra lainnya seperti prosa dan drama. Hal yang paling jelas bisa terlihat sepintas ketika orang membaca sebuah teks puisi adalah bentuknya yang ditulis dalam baris dan bait. Dari segi panjangnya teks atau banyaknya kata yang dipakai, puisi relatif lebih pendek atau relatif lebih sedikit kata-kata yang dipakai walaupun ada juga puisi yang terdiri atas ribuan baris.

Sifatnya yang pendek dan ditulis dalam ruang yang sangat terbatas tersebut pada saat yang sama menimbulkan masalah dalam proses pengkajian dan penafsiran makna oleh pembaca. Terkadang pilihan kata yang dipakai tidak lazim dan jarang ditemui dalam konteks biasa (sehari-hari). Padmanugraha dalam Padmanugraha (2013) lebih lanjut mengemukakan bahwa pada umumnya pembaca mengatakan bahwa kebanyakan puisi menggunakan kata-kata yang sulit dipahami, struktur kalimat yang tidak baku, imajinatif, makna konotatif, ‘bahasa yang tinggi’, dan seterusnya. Hal ini tentu saja sangat menyulitkan pembaca dalam menangkap maknanya secara langsung. Memang terkadang ide yang ingin disampaikan dalam teks puisi tidak bisa ditangkap dengan serta-merta. Perlu kajian yang mendalam dan perlu memiliki nilai rasa seni yang tinggi ketika membaca sebuah puisi.

Berkaitan dengan kesulitan pembaca (mahasiswa) dalam membaca dan mengapresiasi puisi, Padmanugraha (2013) menambahkan bahwa ini akan “berimbas pada pemaknaan dan pemahaman mereka terhadap puisi”. Puisi dianggap sangat imajinatif dan bermakna tinggi dan “sangat jauh dari awang-awang” dan tidak mampu “merealisasikan makna tersebut dalam kenyataan hidup sehari-hari sehingga puisi dianggap sebagai hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari”. Soemanto[2] (2008) mensinyalir bahwa ini merupakan kesalahan dari guru-guru sastra yang telah merenggut puisi dari konteksnya. Padahal menurutnya, konteks ini sangat penting dalam pemaknaan puisi.

Permasalahan dalam Analisis Puisi

Kebanyakan mahasiswa mengalami kesulitan dalam menemukan makna kata-kata dalam teks puisi. Mereka hanya mengandalkan pengetahuan tentang makna leksikal yang sering dipakai dalam konteks umum. Hanya beberapa saja yang peka dan secara kreatif mencoba-coba makna lain dari kata yang ada dalam konteks yang dipakai dalam teks puisi. Tidak bisa dipungkiri bahwa perlu usaha lebih lanjut untuk mencari makna lain dari kata tersebut karena seringkali sebuah kata dalam bahasa Inggris mempunyai makna ganda atau lebih dari satu. Kenyataan seperti ini tentu saja tidak mudah bagi pembelajar bahasa Inggris yang masih berjuang membangun dasar keterampilan berbahasa asing.

Penggunaan majas dan peranti puitis lainnya juga akan menyulitkan pembaca pemula untuk menangkap makna yang terkandung dalam suatu teks puisi. Mungkin akan lebih mudah menangkap makna denotatif yang tertuang dalm teks puisi. Akan tetapi, pembaca akan sulit menangkap makna konotatif yang ada apabila kita tidak mengenal konteks dan tidak jeli melihat setiap aspek peranti puitis yang dipakai. Akibatnya, pembaca akan gagal menelusuri pesan/ide yang tertuang dalam puisi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang peranti puitis sangatlah penting dimiliki oleh pembaca yang ingin benar-benar sukses menganlaisis atau menggali pesan dan makna yang terkandung dalam puisi. Apalagi puisi mempunyai karakteristik yang sangat berbeda dengan genre karya sastra lainnya. Pengajaran kajian puisi tidak akan bisa maksimal kalau tidak ada penekanan pada pengetahuan peranti puitis ini.

Bahasan diambil dari tulisan usulan penelitian a.n. Muhammad Rifqi, S.S., M.Pd. (NIDN 0624116801) dan Valentina Widya Suryaningtyas, M.Hum (NIDN 0616098304)

TUGAS BACA

Wolosky, S. (2001). The art of poetry: How to read a poem. Oxford: Oxford University Press, Inc. (unduh ebook di sini)

Bahasan akan dilanjutkan dengan materi Definisi Peranti Puitis dan Pembagian Peranti Puitis.

 

Karin Sari Saputra, S.Pd., M.Hum | STIBA INVADA Cirebon TA 2016/2017

[1] Padmanugraha, Asih Sigit. 2007. Citra Perempuan dalam “A Work of Artifice” Karya Marge Piercy. Penelitian. FBS. UNY

[2] Soemanto, Bakdi. 2008. Sastra. Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat. (Kamis 10 April)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s