Peranti Puitis dan Pembagian Analisisnya | Poetry Devices

DEFINISI PERANTI PUITIS

Yang dimaksud dengan peranti puitis adalah elemen yang terkandung dan menyusun suatu teks yang dipakai untuk memperoleh aspek keindahan bahasa dan penyampaian makna. Peranti puitis ini meliputi aspek penggunaan kata yang mencakup bunyi, makna, penyusunannya dalam teks puisi.

Penjelasan lainnya, peranti puitis adalah suatu teknik atau peranti yang dipakai dalam puisi yang membantu meningkatkan keindahan bentuk, citra, dan kedalaman makna suatu puisi. Lebih lanjut http://www.chaparralpoets.org/devices.pdf (2013) menyebutkan bahwa penyair hanyalah mengandalkan kata-kata sebagai alat untuk mengekspresikan idenya. Oleh sebab itu, penggunaan kata-kata tersebut haruslah dipertimbangkan dengan tepat sehingga dia bisa mengandung bunyi yang indah, makna yang tidak terduga, urutan yang memungkinkan pembaca untuk memahaminya, serta mempunyai kedalaman pikiran, emosi dan empati yang bisa memunculkan gambaran (citra/image), sehingga pembacanya betul-betul merasa melihat, mendengar dan merasakan apa yang disampaikan oleh penulisnya. Hal ini yang akan mendasari pembagian peranti puitis pada puisi, yang dijelaskan dalam uraian berikut.

1. PERANTI PUITIS MENURUT BUNYI (KATA)

Pengklasifikasian peranti puitis berdasarkan bunyi suatu kata dengan asumsi bahwa kata-kata dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga bisa mencapai suatu efek ketika didengarkan. Bunyi yang didengar bisa mendatangkan efek yang menyenangkan bagi si pendengar ataupun pembaca. Berikut ini adalah beberapa nama peranti puitis yang dibuat berdasarkan bunyi kata. Akan tetapi hanya beberapa saja yang akan disebutkan berdasarkan keumuman (keseringannya) muncul dalam teks puisi.

a. Aliterasi (Alliteration): adalah pengulangan bunyi konsonan di awal kata yang berdekatan satu dengan lainnya dan biasanya terdapat dalam satu baris yang sama. Secara lebih longgar aliterasi didefinisikan sebagai penggunaan konsonan yang sama dalam kata-kata yang berdekatan misalnya:

Contoh: (1) fast and furious
(2) Peter and Andrew patted the pony at Ascot

Dengan contoh yang kedua atau secara lebih longgar huruf p dan t dapat dikatakan sebagai aliterasi.

b. Asonansi (Assonance): adalah pengulangan bunyi vokal dalam kata-kata yang berdekatan biasanya terdapat dalam baris yang sama. Bunyi ini biasanya lebih sering terdapat pada bunyi bertekanan daripada tidak bertekanan.

Contoh: (3) He’s a bruisin’ loser.
Atau dalam contoh (2) di atas bunyi vokal a dalam Andrew, patted, dan Ascot adalah asonansi.

c. Konsonan (Consonance): adalah bunyi konsonan yang berulang dan biaasanya terdapat di akhir kata yang letaknya berdekatan dan dalam satu baris yang sama atau berdekatan.

Contoh: (4) boats into the past
(5) cool soul
Ini akan menghasilkan bunyi berima yang indah didengar.

d. Kakoponi (Cacophony): adalah serangkaian bunyi sumbang yang tidak menyenangkan untuk didengarkan yang dipakai untuk menggambarkan ketidakberaturan yang seringkali dikombinasikan dengan efek makna dan kesulitan dalam pengucapannya.

Contoh: (6) My stick fingers click with a snicker
And, chuckling, they knuckle the keys;
Light-footed, my steel feelers flicker
And pluck from these keys melodies.
—“Player Piano,” John Updike

e. Eufoni (Euphony): adalah serangkaian bunyi musical yang indah dipakai untuk menyatakan rasa harmoni dan keindahan bahasa.

Contoh: (7) Than Oars divide the Ocean,
Too silver for a seam—
Or Butterflies, off Banks of Noon
Leap, plashless as they swim.
— “A Bird Came Down the Walk,” Emily Dickenson (last stanza)

f. Onomatope (Onomatopoeia): adalah kata-kata yang bunyinya sama dengan maknanya. Dalam contoh Hear the steady tick of the old hall clock, kata tick mempunyai bunyi yang sama dengan bunyi jam

Contoh: (8) boom, buzz, crackle, gurgle, hiss, pop, sizzle, snap, swoosh, whir, zip

g. Repetisi/Pengulangan (Repetition): adalah penggunaan kata secara berulang dengan tujuan untuk menciptakan suatu efek. Kadang-kadang dilakukan dengan frase yang lebih panjang yang berisi kata kunci yang berbeda yang disebut dengan paralelisme (parallelism). Inilah yang menjadi bagian pokok dari puisi dalam berbagai bahasa dan budaya. Ini banyak ditemukan dalam Mazmur sebagai elemen penyatu.

Contoh: (9) I was glad; so very, very glad.
(10) Half a league, half a league,
Half a league onward…

Cannon to right of them,
Cannon to left of them,
Cannon in front of them
Volley’d and thunder’d…

h. Rima (Rhyme): Ini adalah salah satu peranti yang paling umum dan banyak diasosiasikan dengan puisi oleh kebanyakan orang. Kata-kata yang awalannya berbeda tetapi akhirnya mempunyai bunyi yang sama. Akan tetapi berbeda dengan bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris ejaan kata yang sama tidak selalu berrima yang sama pula.

Contoh: (11) time, slime, mime
(12) revival, arrival, survival
(13) greenery, machinery, scenery

i. Ritme (Rhythm): Ini tidak banyak disadari oleh kebanyakan orang. Ini ditandai dengan adanya tekanan keras (accented) dan tekanan lemah unaccented) dalam baris puisi. Inilah pula yang membedakan puisi dengan prosa.

Contoh: (14) i THOUGHT i SAW a PUSsyCAT.
(Huruf kecil menandakan tekanan lemah dan huruf capital menandakan tekanan keras)

 

2. PERANTI PUITIS MENURUT MAKNA KATA

Pada umumnya kata mempunyai lebih dari satu makna atau konotasi. Tugas seorang penyair untuk menemukan kata yang benar-benar selaras dan benar-benar menarik apabila digunakan dalam teks puisi. Terkadang kata mempunyai kedalaman makna yang berlapis-lapis pada saat yang sama. Penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan makna adalah sebagai berikut.

a. Alegori (Allegory): adalah suatu representasi dari sebuah makna yang abstrak atau bersifat spiritual. Alegori bisa dalam satu kata atau frase seperti nama tokoh atau tempat.

b. Alusio (Allusion): adalah kata yang mengacu kepada orang, peristiwa sejarah, karya seni ataupun situasi mitos.

c. Ambiguitas (Ambiguity): adalah kata atau frase yang bisa berarti lebih dari satu. Ini digunakan untuk menyamarkan makna yang disampaikan oleh penulisnya.

d. Analogi (Analogy): adalah sebuah perbandingan antara sesuatu yang lumrah dengan tidak lumrah

Contoh: (15) The plumbing took a maze of turns where even water got lost.

e. Apostrofi (Apostrophe): adalah berbicara langsung kepada pendengar imajiner atau benda mati yang biasanya menggunakan nama dalam menyapa.

Contoh: (16) O Captain! My Captain! our fearful trip is done…

f. Klise (Cliché): adalah penggunaan kata-kata yang biasanya sangat populer tetapi sudah berulangkali dipakai sehingga sudah ketinggalan jaman.

Contoh: (17) busy as a bee

g. Konotasi (Connotation): adalah sesuatu yang berkonotasi pada makna lain yang tidak berhubungan dengan makna harfiah.

h. Kontras (Contrast): adalah rangkaian kata dalam kalimat yang menampilkan suatu karakteristik yang bertolak belakang.

Contoh: (18) He was dark, sinister, and cruel; she was radiant, pleasant, and kind.

i. Denotatasi (Denotation): adalah makna yang ada dalam kamus (leksikal) yang tidak mempunyai makna konotatif atau asosiatif.

j. Eufemisme (Euphemism): adalah peranti puitis untuk penghalusan makna yang mungkin bisa berakibat tidak menyenangkan atau menyakitkan.

Contoh: (19) She is at rest. (artinya, Dia meninggal)

k. Hiperbola (Hyperbole): adalah untuk mendapatkan efek melebih-lebihkan.

Contoh: (20) He weighs a ton. (berat orangnya1 ton)

l. Ironi (Irony): adalah pernyataan yang bertentangan dengan keadaan sebenarnya

Contoh: (21) Wow, thanks for expensive gift…let‟s see: did it come with a Fun Meal or the Burger King equivalent?

m. Metafor (Metaphor): adalah perbandingan langsung dua hal yang berbeda.

Contoh: (22) He’s a zero.
(23) Her fingers danced across the keyboard.

n. Metonimi (Metonymy): adalah majas yang dipakai dengan menyebut bagian yang merepresentasikan keseluruhan.

Contoh: (24) The White House stated today that…
(25) The Crown reported today that…

o. Personifikasi (Personification): adalah penyebutan sifat manusia untuk sesuatu benda mati, binatang atau ide abstrak.

Contoh: (26) The days crept by slowly, sorrowfully.

p. Pun: adalah permainan kata dengan menyebut kata yang sama sekali berbeda makna tetapi identik bunyinya

Contoh: (27) Like a firefly in the rain, I‟m de-lighted.

q. Simile: adalah perbandingan langsung dua hal yang berbeda dengan menggunakan kata “like” atau “as.”

Contoh: (28) He‟s as dumb as an ox.
(29) Her eyes are like comets.

r. Simbol (Symbol): adalah benda, kejadian, binatang, atau orang yang mendapat tambahan makna yang merepresentasikan sesuatu misalnya bendera untuk merepresentasikan negara, singa merepresentasikan keberanian, tembok merepresentasikan batasan.

Contoh: (29) A small cross by the dangerous curve on the road reminded all of Johnny‟s death.

s. Sinekdot (Synecdoche): adalah penyebutan seseorang, benda, atau lainnya dengan menyebut salah satu bagian darinya.

Contoh: (29) All hands on deck.

 

3. PERANTI PUITIS MENURUT SUSUNAN KATA-KATA

Kata-kata tersusun dalam suatu rangkaian yang ditentukan oleh penyairnya. Untuk membahas susunan kata tersebut beberapa istilah dipakai untuk berbagai aspek tersebut. Adapun peranti puitis menurut susunan kata adalah sebagai berikut.

a. Sudut Pandang Penceritaan (Point of View): adalah sudut pandang pengarang terfokus pada pencerita dalam cerita atau puisi misalnya orang pertama, orang ketiga, dan orang ketiga yang mengetahui segalanya.

b. Baris (Line): adalah baris yang menandai kekhasan puisi dengan jenis karya sastra lainnya.

c. Bait Verse: satu baris puisi yang tersusun dalam pola metric tertentu. Istilah ini juga dipakai untuk mengacu ke bagian dari stanza.

d. Stanza: adalah pembagian puisi yang tersusun dari beberapa baris biasanya ditandai dengan jarak satu baris dengan stanza lainnya.

e. Pertanyaan Retoris (Rhetorical Question): adalah pertanyaan yang tidak harus dijawab dan hanya untuk menimbulkan efek belaka. Example: Could I but guess the reason for that look?

Contoh: (30) O, Wind,
If Winter comes, can Spring be far behind?

 

4. PERANTI PUITIS MENURUT CITRA KATA

Penyair umumnya lebih peka daripada penulis lainnya. Apalagi yang berkaitan dengan kata-kata yang bersifat abstrak dan lebih bersifat filosofis. Dia bisa menggambarkan sesuatu dengan gambaran visual dan rasa yang kuat. Peranti Puitis yang berkaitan dengan ini adalah sebagai berikut.

a. Imagery: adalah penggunaan bahasa yang hidup untuk merangsang citra mental terhadap sesuatu yang digambarkan. Hal ini juga untuk menimbulkan raswa tertentu. Ada beberapa macam imagery seperti visual, auditori, sentuhan, rasa, dan aroma.

b. Synesthesia: adalah menggunakan efek indra tertentu yang berbeda.

Contoh: (31) The sound of her voice was sweet.
(32) a loud aroma, a velvety smile

c. Tone, Mood: Peranti yang dipakai oleh penyair untuk mengungkapkan perasaan dan sikap tertentu dengan menggunakan pilihan kata yang bisa mengindikasikannya.

Bahasan diambil dari tulisan usulan penelitian a.n. Muhammad Rifqi, S.S., M.Pd. (NIDN 0624116801) dan Valentina Widya Suryaningtyas, M.Hum (NIDN 0616098304)

 

Karin Sari Saputra, S.Pd., M.Hum. | STIBA INVADA Cirebon TA 2016/2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s